Kamis, 25 Februari 2010

sudah biasa

seorang artis muda yang baru keluar dari penjara melahirkan bayi tanpa diketahui siapa bapaknya. tentu hanya si artis yang tahu. seperti biasa berita begitu udah biasa.
rabu 24 februari 2010 di sudut jakarta sesosok mayat (bangkai?) bayi perempuan ditemukan di tempat sampah oleh seorang pemulung berikut ari-arinya. pada hari yang sama di sudut jakarta yang lain sesosok mayat bayi laki-laki ditemukan sedang dicabik-cabik oleh seekor kucing jalanan. seperti biasa berita begitu sudah biasa.
di sana, di sebuah kecamatan di jawa timur untuk ke sekian kalinya karya anak bangsa tersiar. sepasang anak kemarin sore yang belum lama baligh sudah fasih bertingkah bak bintang film blue profesional dan dengan sadar merekamnya. di sana, di ujung pulau sulawesi, sumatra, kalimantan, dan nun di pelosok-pelosok sana yang konon belum ada listriknya, tidak mau kalah, mereka juga produktif bertingkah polah bak bintang film dewasa. tersebar dari hp ke hp. dari komputer ke komputer. dari warnet ke warnet.
makin lama makin biasa.
kalo kemarin, hari ini, besok, lusa, atau nanti, banyak ditemukan bayi-bayi yang dibuang tanpa nyawa ya sudah biasa.
lha wong kita para orang tua, para produser-produser acara tv, film, para anggota dewan yang katanya terhormat, para pejabat, para seniman sibuk ngurusin diri sendiri. sibuk memperkaya diri. sibuk menyenangkan diri sendiri.
sampai kapan.

Kamis, 14 Mei 2009

pancaroba

april telah berlalu berganti mei yang abu-abu
musim pancaroba sudah tiba. banyak halilintar
musim pemilihan sudah tiba. hasilnya kok ya gitu-gitu aja.
katanya mau yang jujur, dikasih uang kok ya mau aja.
kalo banyak yang korupsi ya maklumi aja, kan dulu udah terima porsekotnya
dulu bersama kita bisa. sekarang gak bisa bersama ya cerai aja
dulu presiden sekarang presiden besok ya harus presiden
dulu wakil presiden sekarang wakil presiden besok ya harus presiden
pokok e mati urip dadi presiden, soale enak e dadi presiden
apapun caranya berapapun harganya ya harus jadi presiden
presiden kok jadi tujuan
musim pancaroba udah tiba
ati-ati aja
siang yang panas tiba-tiba halilintar
hujan gak hujan terserah tuhan
jadi nggak jadi ya terserah tuhan

Rabu, 10 Desember 2008

langit mendung

.....
hidup sudah kepalang basah dijalani.
pintu-pintu nasib berserakan melingkari.
kenapa takut pada bayangan diri sendiri.
di tepian nasib kita berdiri.
....

Syah

aisyah. ya nama itu. orang-orang memanggilnya ais. akhir-akhir ini aku lebih suka memanggilnya Syah. nggak tahu. kok kayaknya lebih njawani. agak kurusan sekarang. tapi wajahnya itu, masih seperti dulu. menyejukkan.
susah jauh dari dia.

Rabu, 03 September 2008

penghuni surga

kemarin aku dari rengasdengklok, entah rengasdengklok yang sebelah mana aku nggak tahu persisnya. dari tanjung priok butuh waktu sekitar 3 jam tanpa insiden macet, berapa kilometernya aku juga nggak tahu. selama ini aku tahu rengasdengklok hanya dari sejarah, dulu Bung Karno pernah dibuang disini. kalo tempat pembuangan pastilah di pinggiran. tempat yang sepi.
setelah keluar tol cikampek, dari pintu tol karawang, aku bersama tujuh temanku menyusuri jalan yang gak begitu lebar dengan kijang milik pak haji karem. aku bertiga duduk di kursi tengah, tiga lagi di kursi belakang, seorang teman di depan menemani pak haji nyupir. cukup nyaman, di dalam mobil. pake ac. walau kijang tahun 1997 an masih ok kok. kalo dijual masih cukup mahal sekitar 80 jutaan, apalagi sekarang mau lebaran. gak tahu, kalo mau lebaran kok semua pada mahal. bulan puasa harusnya makan lebih sedikit, tapi kok pengeluaran lebih banyak. piye to? apakah puasa kita masih sebatas perut aja ya? entahlah. yang jelas masih banyak orang mencuri, masih banyak orang yang korupsi, masih banyak orang ngapusi, masih banyak orang yang ...... padahal konon kabarnya para setan dipaksa cuti. Lhah.... kok
sudah hampir dua jam, belum sampai juga, katanya di kecamatan pakis jaya. setelah sampai pasar rengasdengklok mentok belok kiri. di pinggir sungai. aroma pedesaan terasa. sungai yang tidak begitu lebar, konon itu anak sungai citarum, ditumbuhi enceng gondok yang tidak terlalu banyak. banyak bebek. aku jadi ingat bebek goreng dari pak yuli tiap jumat pagi. yang konon di jakarta sampe lima belas ribu rupiah sama nasinya.
ada beberapa ibu muda lagi mencuci, lagi mandi, cuci baju, cuci piring, sementara anak-anak kecil tertawa ceria bermain-main di tengah sungai, terlihat berderet wc gantung di tepian sungai. walaupun coklat airnya, tampaknya begitu berguna. airnya mengalir walapun pelan. gak nampak rasa jijik di wajah mereka. indah-indah aja. kata pak haji karem airnya suci dan mensucikan. walau di luar panas adem ning ati.
tak terasa jalan yang tadinya beraspal, sekarang berganti pake cor. di kiri jalan tampak para pekerja jalan membuat galian. entah galian apa lagi, sudah gak perlu ditanya. jalan sudah bagus-bagus, gak enak rasanya kalo gak digali. habis digali, udah ditinggal pergi. diuruk seadanya. proyeknya kan nggali, gak ada dana buat nguruk seperti semula. kelakuan kok gak berubah. padahal kompeni aja gak begitu. konon jalan-jalan waktu jaman kompeni mulus-mulus. lha jaman merdeka kok begini ? gak papa lah, paling tidak para kuli gali itu dapat kerjaan. lumayan buat nyambung kehidupan.
hampir tiga jam, sampailah di kantor kecamatan pakis jaya. belok kiri masuk ke jalan tanah dengan sedikit batu-batu kecil kayak hiasan. cuma cukup satu mobil, sebelah kiri kali bekas galian yang cukup dalam. sebelah kanan rumah penduduk. harus ekstra hati-hati biar gak terperosok. setelah hampir 5 kilometer, mobil diparkir di halaman rumah orang. tanpa permisi. kebiasaan.
seorang ibu separuh baya sudah menunggu di tepi sungai untuk menyeberangkan kami. agak grogi menyeberangi bekas galian pasir yang sudah seperti sungai itu. sampai di tepi sungai, perjalanan diteruskan jalan kaki di atas jalan sempit dari batu cor sembarangan. panas. gersang. jauh dari kemajuan. aku baru paham kenapa rengasdengklok dulu dijadikan tempat pembuangan. seandainya Bung Karno hidup lagi, dia pasti akan dengan mudah tahu dimana tempat dibuang dulu. gak berubah.
sebuah gundukan tanah merah bertaburkan bunga-bunga tampak di seberang jalan. aroma kesedihan mulai terasa. kain warna kuning ditancapkan di depan sebuah rumah. rumah mertua sobatku. ro'yat. teman-teman biasa memanggilnya roy. tampak ketabahan di wajahnya. walau masih kulihat rasa kehilangan yang amat sangat dimatanya. dia baru saja kehilangan separuh nyawanya. sigaraning nyawa kata orang jawa. istri tercinta. demi mendapatkan buah hati, dia rela mengambil resiko walaupun kehamilan di luar kandungan. tak dinyana sang janin berkembang di saluran telur yang hanya seukuran lidi. bisa dibayangkan, makin hari semakin besar sang buah hati. akhirnya tuba falopi yang harusnya buat telur, pecah. entah bagaimana, sang darah putih bersikap tidak seperti biasanya. menyerang paru-paru ibu muda ini. subhanallah, temanku menceritakan hal itu padaku, pada teman-temanku, pada Tuhan, iya meyakinkan semua betapa bagusnya rencana Nya. sesekali bunyi petasan terdengar. Vian sang putra pertama bermain petasan. entah sedih, entah untuk menghibur diri. begitu memilukan.
hening. seketika aku ingat istriku, ingat ibuku, ingat anak-anak perempuanku. Ah...
percayalah sobatku, dia tidak mati, dia dijamin surga, dia menunggumu di teras pintu surga, Allah sudah menjanjikannya.

Rabu, 20 Agustus 2008

episode baru

akhirnya........
jadi permulaan babak baru
semoga lebih indah
semoga lebih berkah
semoga

Rabu, 13 Agustus 2008

mak

Mak perut Udin keroncongan
Belum makan dari tadi malam

Mak beliin dong Inah pakaian untuk seragam
Inah cuma punya sepasang
Itu juga sudah penuh tambal
Inah malu sama teman teman

Mak beliin dong buku tulis keluh Ujang
Buku kemarin yang Mak belikan
Sudah habis terisi pelajaran

Baik anakku kan Mak penuhi permintaan kalian
Asal Bapak sudah pulang
Baik anakku kan Mak penuhi permintaan kalian
Asal Bapak sudah pulang

Tiba tiba pintu depan diketuk orang
Mang Mamat teman sekerja Ayahnya datang
Membawa kabar
Tentang malapetaka yang menimpa Ayahnya
Dia tertiban beton dari atas bangunan
Kini dia terbujur lesu diatas kasur rumah sakit

Si Ibu bingung harus bagaimana

Mak kenapa Ayah kok belum pulang ?
Tanya ketiga putra putrinya
Si Ibu bingung harus menjawab apa

Mak nanti kalau Ayah sudah pulang
Pasti membawa banyak uang
Bisa membeli nasi Udin tak lapar lagi
Bisa membeli baju untuk seragam
Inah tak malu lagi
Bisa membeli buku tulis untuk Ujang

Kata ketiga putra putrinya
Yang tidak tahu bahwa Ayahnya terkena musibah

Si Ibu bingung harus menjawab apa
Si Ibu bingung harus menjawab apa
Menangis dia

Terbayang jelas wajah suaminya
Dan terpikir soal biaya pengobatan suaminya
Yang terlalu mahal bagi ukuran pekerja kasar
Yang terlalu mahal bagi ukuran pekerja kasar

Terngiang jelas permintaan putra putrinya
Yang tak mungkin bisa terkabulkan
Si Ibu bingung harus bagaimana
Si Ibu bingung harus bagaimana
Si Ibu bingung harus bagaimana
Menangis dia

Dalam kalut
Ia selalu mengharap uang mandor suaminya
Untuk keperluan anaknya
Untuk biaya pengobatan suaminya

Tapi si mandor pelit
Waktu si Ibu meminta pertolongan si mandor suaminya
Yang rupanya mandor itu bandot tertawa genit
Dalam otak si Ibu terselip
Pikiran yang sangat sempit
Sebab keluarga yang saya ceritakan itu pailit
Dan amat sangat memerlukan duit

Dengan perantara tubuh molek si Ibu
Keperluan anaknya dan biaya pengobatan suaminya
Bisa terpenuhi

Si Ibu tersenyum
Si Ibu tersenyum
Si Ibu tersenyum
Melihat keluarganya bisa kembali seperti semula
Sekalipun hati si Ibu amat tersiksa

Si Ibu tersenyum
Melihat keluarganya bisa kembali seperti semula
Sekalipun hati si Ibu tersiksa

(Mak by Iwan Fals)